Modul Digital – www.indopos.co.id

Asuransi226 Dilihat

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOS.CO.ID – Ini masih soal Felix Pasila. Di samping punya marketplace paten, ia juga punya marketplace modul mata kuliah. Yang ini ia kerjakan sebagai dosen di Universitas Kristen Petra. Namanya PetraVerse. Sebagai universitas penyandang status unggul, Petra boleh punya program online seperti itu. “Yang ikut modul mata kuliah PetraVerse bisa ditransfer ke SKS,” ujar Felix, pemilik lebih 40 paten lulusan ITS, Bremen dan Bologna itu.

Kini peserta kuliah modul digital PetraVerse sudah 3.000 mahasiswa. Modul paling laku adalah Pancasila. Pengajarnya Anda sudah tahu: penulis buku Pancasila Prof Dr Yudi Latif. Ia adalah Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Sampai tahun 2018. Buku Pancasilanya laris.

PetraVerse lantas menghubungi Prof Yudi Latif: apakah bukunya boleh dimasukkan sebagai modul mata kuliah di PetraVerse. Boleh.

Maka tim Felix mengolah buku tersebut dalam bentuk modul digital yang menarik. Menjadi modul seperti permainan game. Atau seperti komik modern.

Setelah modul itu jadi, PetraVerse minta persetujuan Prof Yudi. Setuju. Barulah diluncurkan.

“Pengikut modul Pancasilanya Prof Yudi paling laris. Mahasiswanya 9.000 orang lebih,” ujar Felix. “Berarti beliau bisa mendapat fee sekitar Rp 45 juta setahun,” katanya.

Dahlan Iskan (tengah). Foto : Disway

Tak mustahil penghasilan Prof Yudi dari modul bisa Rp 4 miliar setahun. Kalau jumlah mahasiswanya terus bertambah.

Modul lain yang juga laris adalah matematika dan virtual reality. Ada juga modul yang menekankan pada soft skill dan kemampuan kolaborasi. “Untuk pekerjaan tertentu lulusan perguruan tinggi elite tidak bisa diandalkan,” ujar Felix. Misalnya jenis pekerjaan di tambang. Lulusan ITB dan UI bisa tidak kerasan di lapangan. Mahasiswa perlu disiapkan di bidang soft skill dan kolaborasi.

Jumlah 11 modul itu akan terus bertambah. Felix mengerjakan modul dengan bantuan artifisial intelligence. Felix memang doktor AI dari Bologna, Italia.

“Satu modul yang dulu dikerjakan 2 bulan, bisa selesai dalam 2 minggu. Berkat AI,” ujar Felix.

Anda sudah tahu: kini begitu banyak aplikasi bisa di-download. Tinggal bayar. Sangat murah. Pun aplikasi untuk membuat gambar-gambar digital.

Felix juga menawarkan modul digitalnya ke Universitas Terbuka. Yang kini mahasiswanya sudah lebih dari 500.000 orang.

Semua modul di PetraVerse itu masih gratis. Masih di tahap memperkenalkan diri. Felix yang usul PetraVerse itu. Langsung disetujui. Padahal saat itu, 2021, Felix minta anggaran Rp 2 miliar. Sekaligus sebagai persiapan untuk menyongsong jenis universitas masa depan.

Felix kini punya tim besar di PetraVerse: 50 orang. Mereka adalah mahasiswa, alumni dan dosen Petra. Jumlah staf itu sudah dibuat efisien karena lebih banyak menggunakan AI. Untuk gambar-gambar avatar di modul tersebut sepenuhnya dikerjakan AI.

Felix kini sudah menyatu dengan UK Petra. Ia memang aktivis gereja. Waktu ke rumah saya ia berstatus mendampingi pendeta dan para aktivis gereja lainnya. Semua patennya didaftarkan lewat UK Petra.

Di antara paten serius Felix (lihat Disway kemarin), banyak juga paten yang menyangkut keperluan hidup sehari-hari. Misalnya ia punya paten soal penjepit mic di masker.

Kacamata hologram agar saat berolahraga sendirian serasa berolahraga bersama banyak teman. Lalu kasur sejuk. Sandal wudu yang tidak licin. “Ada teman kami jatuh setelah berwudu. Sandalnya berair,” kisahnya. Maka ia menciptakan sandal dengan banyak lubang vertikal yang dihubungkan dengan lubang-lubang ke samping.

Banyak yang bisa dipatenkan. Daripada para doktor dan guru besar hanya mengejar Scopus. Maka keinginannya untuk memajukan Indonesia bisa tercapai. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 September 2023: Paten Pasila

Amat K.
Setahu saya, di Indonesia, orang Medan-lah yang terbanyak punya paten. “Paten kali bah kau ini!”

Pedro Patran
Kalàu mau “umuk” soal paten maka kita gak kalah tuh… Lah dalam satu propinsi ada banyak kabuPATEN, jumlahkan saja ada berapa, Anda akan tahu. Di Ukraina saat ini juga banyak PATEN, yaitu PATEN PATENAN, saling membunuh, hadeuh..

MULIYANTO KRISTA
Ada dua hal menarik pada foto artikel hari ini. 1) Yang menggantung di atas kepala mas Felix. 2) Yang menggantung di depan logo Disway. Barangkali para perusuh ada yang pernah “sowan” ke rumah sakura bisa bantu jawab ya.

mzarifin umarzain
Tuhan Berdagang, dg posisi sebagai: PEMBELI. Pembeli adalah raja, terhormat. Alat tukar nya dari Tuhan adalah: sorga. Manusia sebagai: PENJUAL. Alat tukar nya adalah: jiwa raga manusia. Bagi yg mau berdagang dg Tuhan, sukarela. Yg tak mau boleh, berarti berdagang dg Syaithoon. Tuhan Membeli nya dg alat tukar: neraka.

mzarifin umarzain
PATENtang PATENteng orang yg mabuk kuasa. PATENtang PATENteng anak2 para koruptor.

Alvito Wildani
Memang paten argumen bro Felix Pasila ini ” Guru dan doktor jangan hanya berfokus pada penulisan jurnal namun juga harus bisa menghasilkan, Kejarlah Paten jangan Kejar Jurnal” namun fakta empirisnya dikalangan para guru dan dosen serta para doktor mereka harus bisa menghasilkan karya tulis yang bermanfaat supaya mereka bisa naik pangkat/jabatan dan tidak stuck disana, supaya naik pula gajinya. Itu juga tidak mudah seleksinya ketat saingannya banyak, cukup sulit untuk bisa diterbitkan karya tulisnya. Terlebih lagi syarat-syarat penerbitan jurnal cukup banyak, ditambah dengan kendal keuangan pula karena gaji mereka (guru bukan doktor) yang tidak sesuai dengan tugas mereka yang banyak. Itu mengapa banyak jurnal yang berhasil terbit namun tidak terasa manfaat dan faedahnya. Selain itu minat baca dan literasi kepenulisan masyarakat Indonesia yang terus menerus menurun anjlok, bukan jatuh tersandung melainkan jatuh tercebur dan tenggelam jauh ke dasar lautan. Swmoga minat baca dan loterasi kepenulisan di Indonesia bisa kembali dan berkembang menjadi lebih baik.

Eyang Sabar56
Soal PATEN-PATENAN, ada paten yang super paten tidak bisa ditiru oleh siapapun. Yakni penciptaan manusia oleh Tuhan. Tidak ada yang sama persis , kembar sekalipun tetap ada pembedanya. Saya sembah sujud untuk itu. Soal paten ciptaan manusia khusus di kita, saya pikir perlu perombakan fundamental soal sistem pendidikan kita yang masih kental feodalnya. Maaf ini pendapat saya, diruang ini sangat banyak orang cerdas nan pintar yang lebih mumpuni, sebut saja BPK Mirza, Bung JZ, apalagi Bung LT yang sangat mumpuni menggantikan opung LBP di kabinet jagoannya @Bung JZ. Siapa tau kan? Asal jangan dipatenkan dulu. #salamdamaiselalu#

Baca Juga  Tanggapi Survei Populi, Nusron Wahid : Hilal Sekali Putaran Makin Tampak

Eyang Sabar56
Masih seputar paten, saya ada ide membuat alat yang bisa menuntun pasangan baru atau lama untuk menciptakan generasi unggul dan bisa menentukan jenis kelamin yang dikehendaki. Mungkin bukan ide baru, siapa tau Bung Ketua Perusuh sudah duluan memikirkannya. #salamsehatsemua#

Agus Suryono
KATA BERITA, TENTANG HAK PATEN MILIK PAK HABIBIE.. Ya, kata berita.. Jumlah hak patent milik pak Habibie mungkin merupakan yang “terbanyak menghasilkan royalti” g dimiliki orang Indonesia.. Jumlahnya mencapai 46 patent, dan sebagian besar terkait bidang “aeronautika”. Jadi udah benar: Tahap pertama, didorong untuk “ada” dan ‘semangkin” banyak lebih dulu. Nanti di tahap selanjutnya, bisa didorong, untuk mengarah yang “bermanfaat untuk orang banyak”. ### Bermanfaat untuk orang banyak, akan otomaris juga bermanfaat untuk penemunya: Royalti..

Agus Suryono
Biaya riset memang besar sekali. Dan belum tentu berhasil. Karena itu kadang ada produk temuan baru yang “biaya produksi”nya sebenarnya kecil, tetapi dijual dengan harga sangat mahal. Hal itu terjadi salah satunya karena ditambah untuk “pengganti” dan atau pembebanan dari biaya riset yang sudah dilakukan sebelumnya. Yang dialokasikan, katakan, untuk selama 25 tahun. Kadang, meski harus “membiayai” biaya penemuannya, harga produk masih sangat murah dibanding harga “produk lama”. Dan “demand” masih sangat tinggi. Contoh, misalnya harga HP yang keluar belakangan, harganya jauh di atas harga HP lama. Itu karena antara lain ditambah biaya riset utk menghasilkan “fitur baru” HP baru. Yang dibebankan selama, katakan 2 tahun, karena diprediksi dalam 2 tahun, sudah akan ada “penemuan baru” lagi. Nah untuk yang bukan barang yang umum dijual belikan di pasar, tentu mekanisme, dan itung-itungannya bukan berdasar kayak HP. Kalau udah terkait nuklir dan sebagainya, kita udah bicara tentang keunggulan teknologi, keunggulan “teknologi militer”, geo politik dan seterusnya, “semuanya harus dihitung” dengan teliti.. ### Dan diperhitungkan.

imau compo
Ngerusuh, sedikit, mumpung masih ingat. Sebelum pembangunan Kereta Cepat, almarhum teman saya membagikan sinopsis nilai ekonomisnya via WAG. Sayang sinopsis yg dikecilkan lagi dalam ukuran narasi WAG tersebut tidak saya simpan utk tidak membebani HP tapi otak saya masih menyimpan sebagiannya. “Kereta cepat akan menjadi mesin penggerak ekonomi nasional bukan hanya Jawa Barat. Walini akan menjadi kota industri……dstnya.” Sangat membahana. Apa yg kita saksikan saat ini? Masing-masing tentu dengan pembelaannya tapi jauh dari fatamorgana sinopsis skala WAG waktu itu. Dapatkah Rempang kita proyeksikan dengan skema cerita awal Kereta Cepat sampai dengan realita saat ini? Salah satu kegunaan ilmu sejarah adalah utk membuat proyeksi masa depan, sehingga sejarah Kereta Cepat ini seyogyanya dapat digunakan. Wallahu A’lam.

Agus Suryono
OUT OF TOPIC: KATA PAK MMD, MK ADALAH LEMBAGA “NEGATIVE LEGISLATOR”. Begitu saya baca di media hari ini. Penjelasan itu pak MMD ucapkan sebagai tanggapan atas komentar masyarakat, menanggapi keputusan MK terkait “batas umur” bacapres. Batas bawah, maupun batas atas. Tapi inti penjelasan pak MMD adalah: 1). Standar ilmiah MK adalah merupakan “lembaga negative legislator”: Bisa membatalkan. 2). Lembaga negative legislator, artinya: Hanya boleh dan hanya bisa “membatalkan”. MK tidak bisa “membuat”. Dan juga tidak bisa “mengubah”. 3). Yang diputus oleh MK bukanlah aturan yang “tidak disukai orang”. Tetapi aturan yang “melanggar konstitusi”. 4). Perubahan aturan bukanlah ranah MK. Itu ranah lembaga legislative. 5). Standar ilmiah MK tersebut butir 1) di atas, sudah ada sejak tahun 1920, ketika pertama kali dibentuknya MK, di Austria.. ### Ini saya anggap kuliah umum tentang hukum. Maklumlah saya orang Akunting. Dan Audit. Jadi ini ilmu baru. Bagiku..

Johannes Kitono
Riset Telur Tahun 1976, saat baru mulai kerja di CP grup. PMA asal Thailand pioner peternakan modern di Indonesia. Iseng-iseng coba riset daya tahan telur. Tentu dari Ayam Negeri. Dan tanpa mengikuti metodelogi penelitian karena belum sempat kuliah.Ambil dua egg tray plastik yang diisi masing- masing tiga puluh butir telur. Bagian lancip telur taruh dibawah. Untuk menghindari kontaminasi udara ke kuning telur yang diselubungi putih telur. Kedua egg tray itu dicelup ke air panas di kuali sekitar dua menit. Dan angkat kembali. Now, kedua egg tray dikasih label tanggal. Dan taruh dikamar tidur yang stabil suhunya. Ternyata, telur hasil celupan itu bisa bertahan sampai 72 hari tanpa ada yang busuk. Penelitian dengan biaya sendiri itu tidak dilanjutkan. Cukup untuk mengobati rasa ingin tahu saja. Lagi pula, mana ada pedagang telur stok telur sampai seminggu. Ada yang mau mencoba Riset yang tidak ada patennya. Hati-hati saat mencelup telur ke kuali. Jangan kelamaan supaya tidak menjadi telur setengah matang. Yang harus dimakan telurnya dan riset diulang lagi.

Atho’illah
Saya kuliah jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan. Dua minggu yang lalu baru selesai KKN. Oleh ketua kelompok, saya ditunjuk sebagai Seksi Bidang Sosial, Budaya, Lingkugan Hidup, Pemberdayaan Masyarakat dan Penghijauan. Okelah, masih nyambung, sama² dalam ruang lingkup Soshum. Setelah Dua minggu, saya diganti menjadi Seksi Bidang Penerapan Teknologi Tepat Guna dan Teknologi Informasi. Dari Soshum ke Saintek. Dua di antara beberapa program yang saya kerjakan yaitu membuat mesin penetas telur otomatis untuk peternak bebek di desa sama membuatkan website desa —lebih tepatnya mengedit codingan yg saya dapatkan dari youtube untuk dijadikan website desa sederhana—. Walau pun pusing dan kurang tidur karena harus mengerjakakan sesuatu yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Alhamdulillah, atas bantuan Youtube, Google, ChatGPT, dan beberapa anggota kelompok, semuanya berjalan dengan lancar dan mendapat apresiasi dari tim penilai. Kalau gak ada Youtube sama Google saya bukan orang teknik atau IT mungkin gak akan bisa.

Liam Then
Kesabaran dalam melakukan dan mempraktekan riset, butuh ketekunan. Menciptakan sesuatu yang baru, benar-benar susah. Saya ini penggemar ikan hias bernama latin Betta Splenden. Atau di Indonesia yang kerap dipanggil Ikan Cupang. Terbantu oleh internet, saya terjun masuk ke pusaran informasi para penggiat budidaya cupang, yang macam-macam warnanya. Seorang proffesor di satu universitas Amerika, membiakkan seribu pasang cupang, hanya untuk mencari formulasi kombinasi pasangan genetik, yang menciptakan warna putih solid mulus. Belajar otodidak, saya ulang teorinya cross genetiknya, cukup 1/2 langkah terakhirnya, saya coba kawinkan satu cupang warna putih, murni dengan satu cupang warna -warni dengan trait genetik bakat warna kuning. Menurut teori proffesor itu, hasilnya adalah warna warni, tidak ada yang putih. 4 bulan kemudian saya saksikan itu benar adanya, seluruh anak cupangnya tidak ada yang warna putih murni. Setelah itu, sesuai teori sang proffesor, saya lanjutkan percobaan berikutnya sepasang dari F1 , saya kawinkan , karena membawa “allele” atau jejak DNA, atau apa saya lupa istilahnya syarat-syarat warna putih murni terpenuhi, sehingga generasi F-2 dominan semua kembali ke warna putih. Percobaan kecil semacam ini saja, bukan penemuan baru, sudah habis waktu hampir 1 tahun. Sungguh saya respek terhadap para peneliti yang menemukan hal baru. Dedikasi waktu mereka, yang diperlukan dalam hal menemukan sesuatu yang baru, sunggu luar biasa.

Baca Juga  Pasca Kebakaran TPA Rawa Kucing, Masyarakat Kota Tangerang Diimbau Kurangi Sampah

Udin Salemo
Orang kita malas meneliti. Maunya beli aja. Apa-apa beli. Apalagi swasta, pinter banget. Jalan tol layang Bekasi – Cikampek (tol MBZ) dibuat dulu sama Jasa Marga. Swasta ogah membangunnya. Setelah beroperasi Salim Grup beli 40% hak konsesi jalan tol itu sebesar Rp.4,03 triliun. Kalkulator hp saya mungkin tak sehebat kalkulator orang yang jual jalan tol itu. – Biaya pembangunan tol layang MBZ menghabiskan Rp.16,23 triliun. – setelah operasi sahamnya 40% dijual. – 40% x Rp.16,23 triliun = Rp.6,492 triliun. – swasta beli 40% saham jalan tol MBZ senilai Rp.4,03 triliun. – Rp.6,492 triliun – Rp.4,03 triliun = Rp.2,462 triliun. ada yang dapat discount Rp.2,462 triliun. woooooooooooooowwwww….. hebaaaat…. (swastanya yang hebat)

Liam Then
Pernah saya baca dulu entah di media mana, keragaman hayati Indonesia, terutama yang di Papua dan Sulawesi , itu luar biasa potensi ekonominya. Potensi penemuan rantai kimia bahan obat-obatan baru yang bisa diekstrak dari tumbuhan-tumbuhan unik yang hanya ada di Sulawesi dan Papua, nilainya sungguh luar biasa, kalau mau digali. Karena saya orang Tionghoa, apa-apa dihubungkan dengan duit, saya tentu harapkan ini bisa jadi sumber pendapatan baru oleh masyarakat dan negara. Sungguh sia-sia rasanya jika tidak ada upaya , penelitian intens disini. Barang spesial hanya kita yang punya, jika kita bisa temukan fungsi-fungsi spesial, kandungan obat spesialnya, bisa dibayangkan betapa besar imbas ekonominya. Jurnal-jurnal penelitian tentang betapa spesialnya biodiversitas di Sulawesi dan Papua, sudah banyak di lakukan. Sekarang yang Indonesia butuh adalah penelitian lanjutannya, pemerintah jangan sokong investasi asing saja, investlah ke anak bangsa para peneliti kita yang kurang “gizi”. Jamin kehidupan mereka , agar mereka bisa fokus meneliti, tanpa kuwatir masa depan keluarga dan anak-anaknya. Baru itu ada kemajuan bisa terjadi. Sesungguhnya orang RI , termasuk saya, sedang mengidap yang saya namakan “syndrome mie instant” Apa-apa mau cepat jadi. Mau food estate harus cepat jadi, harus langsung untung. Ini tidak bisa ,menyalahi hukum alam. Coba dipikirkan, sebiji jagung saja , supaya bisa menghasilkan, harus tunggu 3,5 bulan. Penelitian apalagi.

Mirza Mirwan
Konon. Hari Valentine itu 14 Februari, Bung. Apakah mulai 2024 berubah jadi tg. 24 Februari? Kalau dikaitkan dengan Mas Ganjar, tentunya juga dalam kaitan pilpres. Itu juga 14 Februari 2024, hari Rabu.

Juve Zhang
Ada satu “Paten” yg saya suka banget dan boleh anda pake sampai 24 februari 2024 bukan berarti setelah itu berbayar .cuma anda tahu kan 24 feb 2024 hari valentine. “Paten ” ini bagus dan akan mengubah peta politik bangsa Indonesia menuju negara maju bebas korupsi. Paten ini punya pak Ganjar dan diucapkan di depan cermin waktu dinUGM di minta oleh Najwa.S. kalimat paten nya sangat singkat dan sederhana : ” JAR KAMU JANGAN KORUPSI”. Paten ini akan merubah Indonesia total dari bangsa tukang ngebor menjadi bangsa yg malu ngebor. Anda mau maju bersama membuat korupsi hal memalukan ayo pilih pemilik paten ini anda sudah tahu sendiri.

Mukidi Teguh
Saya dulu punya senior di kantor yang punya paten resep es krim dari bahan tertentu. Sayangnya paten itu akhirnya kadaluarsa tanpa dilirik oleh pelaku usaha. Di Indonesia tampaknya jarang sekali paten yang laku, maka hasrat untuk mematenkan juga rendah. Mungkin karena pengusaha Indonesia juga jumlahnya lebih sedikit dibandingkan Amerika apalagi Tiongkok.

Liam Then
Barusan saya baca , analisa jurnal peneliti barat, terhadap perkembangan ajuan paten dari Tiongkok, khususnya di bidang kendaraan listrik, ternyata paten itu juga ada klasifikasinya. Ada tingkatan level kualitasnya. Jadi wajar,jika ada satu paten ada dipakai ,dibeli atau tidak sama sekali setelah ditemukan.

imau compo
Saya salah satu orang yg skeptis dengan nilai tambah journal terindeks scopus sebagai syarat karir peneliti kita. Nilai tambah yg dimaksud adalah sumbangsihnya terhadap objective negara dan bangsa. Hasil penelitian kita yg dipublikasikan di journal nilai tambahnya lebih dinikmati negara-negara maju. Mereka punya lembaga (baik profit maupun nonprofits) interface yg membawa hasil penelitian ini ke pemanufaktur, industri dan pasar. Kita tidak punya lembaga semacam itu sehingga pusat riset dan perguruan tinggi di satu sisi dan industri/pasar di sisi yg lain berjalan sendiri-sendiri. Dua pihak ini ibarat jalan tol, satu arah tanpa interface. Hal di atas pernah saya sampaikan ke seseorang, profesor di ITS. Profesor ini menjawab, sementara ini kita butuh lembaga independen semacam itu karena lembaga-lembaga yg dibentuk pemerintah selalu saja gagal mendeliver tujuan tadi mulai dari independensinya sampai ke mutu pemangkunya. Terkait dengan paten, output ini memerlukan peneliti yg berkualitas untuk menelurkannya. Journal terindeks scopus adalah salah satu tools utk mencetak peneliti berkualitas ini. Mungkin bersebab kesalahan metodologi lah energi air dari Cirebon tidak pernah dipatenkan. Syarat paten adalah metodologi yg benar sehingga industri dapat membeli patennya utk diproduksi.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *