3 Kuliner Khas Pura Mangkunegaran Ragam Nutrisi Kaya Filosofi

Berita299 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Indonesia memiliki pangan lokal yang beragam. Hal ini didukung keragaman daerah dan budaya yang sesuai dengan karakteristik daerah itu sendiri. Salah satunya kota Solo di Jawa Tengah, yang menjadi destinasi wisatawan untuk berburu kuliner.  

Gusti Raden Ajeng, Ancillasura Marina Sudjiwo, perwakilan Pura Mangkunegara mengatakan selain dikenal sebagai kota dengan kekayaan budaya, Solo juga dikenal dengan kulinernya beragam. Namun masih banyak yang belum mengetahui kuliner Solo juga memiliki potensi nutrisi dan gizi yang baik untuk kesehatan. Termasuk makanan yang dikonsumsi di keraton-keraton.  

“Mungkin gizi dari makanan zaman dahulu, lebih sehat dari zaman sekarang, mungkin masih murni, belum ada pestisida, masih organik,” kata wanita yang disapa Gusti Sura, dalam acara Jelajah Gizi 2023, di Solo, Jawa Tengah, Senin, 14 Agustus 2023.

Sebab itu, sangat penting untuk mengembangkan dan melestarikan kuliner Solo. Hal ini agar generasi muda bisa mengenali dan merasakan makanan khas. Beragam makanan khas keraton juga dikembangkan dengan cita rasa masa kini. 

Gusti Raden Ajeng (G.R.Aj.) Ancillasura Marina Sudjiwo dalam acara Jelajah Gizi 2023, di Pracimasana, Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Senin, 14 Agustus 2023. (TEMPO/Yunia Pratiwi)

Gusti Sura juga memperkenalkan beberapa makanan khas Pura Mangkunegaran yang biasanya disajikan saat acara khusus, yaitu Jenang Suran, Ketan, Kolak dan Apem, serta Tumpeng Janganan. Dari setiap pangan yang dihidangkan, tidak hanya mengandung nutrisi yang berguna, tapi juga ada maknanya.

Jenang Suran hanya disajikan setahun sekali, yaitu setiap tanggal 10 bulan Suro. Makanan ini terdiri dari sayur kare, yang berisi tauge, wortel, dan buncis. Dilengkapi dengan perkedel, sayur krecek, kerupuk udang, telur ayam pindang, ikan goreng serta bubur gurih. 

Baca Juga  2023 BWF World Championships: Indonesia Badminton Team Holds First Practice

Iklan

Jenang Suran. (dok. Istimewa)

“Biasanya disajikan untuk keluarga dan kerabat, tapi abdi dalem juga dapat menikmati makanan ini, karena ini bermakna untuk berbagi, ini juga simbolik bahwa kesetaraan itu ada,” kata Gusti Sura, menambahkan, secara keseluruhan Jenang Suran mengandung protein dan lemak yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Ketan, Kolak dan Apem merupakan bagian dari hidangan yang disajikan saat Janganan atau selametan. Ketiga makanan ini disajikan dalam satu wadah dan masing-masing memiliki filosofi. 

Apem terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan telur, santan, gula dan sedikit garam. Apem menandakan bahwa manusia memohon pengampunan. Kemudian kolak berasal dari kata khalik yaitu Sang Pencipta.” Kolak ini isinya pisang kepok, yang jika orang Jawa bilang ben kapok (supaya kapok) sehingga bertobat,” kata Gusti Sura.

Sedangkan ketan yang lengket menyimbolkan hubungan yang erat sesama antar manusia. “Jadi dengan menyantap 3 kuliner ini, kita diingatkan untuk mengatur hubungan secara vertikal maupun horizontal,” tambah Gusti Sura.

Sementara Tumpeng Janganan disajikan setiap peringatan hari lahir atau weton, berdasarkan penanggalan Jawa. Isi tumpengnya terdiri dari nasi putih, sayuran berupa tauge daun lembayung, daun kenikir, kacang panjang, kangkung, mentimun dan daun kemangi. Ditambah Bothok, ikan asin, telur ayam rebus, buah-buahan, serta bubur merah dan putih.

Pilihan editor: Serba Serbi Street Food, Kuliner Lokal Harga Relatif Terjangkau



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *